Showing posts with label Personal Reflections. Show all posts
Showing posts with label Personal Reflections. Show all posts

Monday, January 6, 2014

What I Realized from The Bible about First Try


From all creation of God, what is the best amongst them all? Human (because it is said in The Bible that human was created according to God’s image, and was given authority to rule all the plants, animals, and environment). On what day God actually created it? Sixth day, the last day.

This reading from Genesis 1 has greatly strengthened my principle that the first is not always the best. That should remain us that we should not give up on our first try in everything we do, even though it was a disaster. Just give it another try :)

PS : Another interesting conclusion is don’t get disappointed when someone seems to finish first, or reach the goal before you, because it has no guarantee that the first is the best, maybe you can be better even if you are a little bit late, so.. don’t slow down your steps, run!

Thursday, February 28, 2013

Kenangan dan Kelekatan



Berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi saya sejauh ini, sebuah kenangan memiliki dua sisi, sisi melekat dan tidak melekat. 

Sisi melekat dari sebuah kenangan adalah ketika kita mengingat sebuah kenangan dan berpikir, “indahnya saat-saat itu, andai aku bisa mengulangi momen-momen indah itu, andai waktu bisa kuputar kembali ke saat itu..” Sisi ini jelas sangat merugikan bagi seseorang yang mengalaminya. Sisi ini hanya menimbulkan kesedihan, sedih karena secara tidak langsung kita berpikir bahwa saat ini tidak seindah saat itu, dan pada kenyataannya kita tidak bisa kembali ke waktu itu dan mengulangi semuanya. 

Saya bercermin pada pengalaman diri sendiri. Saat pertama saya mengikuti lomba dan kompetisi, saya memiliki niat untuk menguji kemampuan, menguji diri. Tetapi seiring dengan beberapa keberhasilan yang saya peroleh dalam perlombaan yang saya ikuti, secara tidak sadar niat saya menjadi bergeser, menjadi melekat dengan sisi kenangan yang satu ini. Saya tidak lagi murni memiliki niat untuk menguji diri, tetapi ingin mengulangi kesuksesan yang saya peroleh dari lomba-lomba sebelumnya, karena saya memiliki kenangan. Kenangan betapa indahnya saat-saat kemenangan itu. Saya terus mengikuti lomba. Ketika menang saya senang, namun hanya bertahan beberapa saat, saat yang sungguh singkat, sisanya batin saya kembali menderita seperti seseorang yang kehausan, ingin segera memperoleh kemenangan lagi untuk pemuasan yang sungguh bertahan singkat. Ketika kalah saya sedih, karena tidak bisa mengulangi momen kemenangan yang ada dalam ingatan saya tersebut. Akhirnya ini menjadi sebuah pengejaran tanpa henti. Pengulangan yang penuh penderitaan. Namun sayangnya justru sisi kenangan inilah yang paling sering ditonjolkan dalam film drama dari negara manapun, dan lagu-lagu bertema cinta dengan bahasa apapun.

Sisi kedua adalah sisi yang lebih positif. Sisi ini mengingatkan kita akan nilai-nilai baik yang terdapat dalam kenangan tersebut dan menuntun kita untuk kembali pada nilai-nilai baik tersebut ketika kita mulai menyimpang. Contohnya adalah ketika kita mengenang perjuangan para pahlawan kemerdekaan, kita diingatkan akan nilai-nilai kebersamaan, kegigihan, pantang menyerah, dan sebagainya. Contoh lain adalah ketika saya mulai merasa malas dan saya mengingat momen-momen kritis dalam perlombaan yang sangat menentukan kemenangan, dimana semua peserta mengeluarkan seluruh usaha dan kemampuan terbaiknya, saya menjadi kembali bersemangat karena diingatkan mengenai arti dari sebuah perjuangan.

Jadi, seperti hal-hal lain di dunia ini, kenangan pun menurut saya adalah netral. Bagaikan keping uang logam yang memiliki dua sisi, demikian pula semua hal memiliki sisi baik dan sisi buruk. Sesuatu yang kita lakukan dengan hal itulah yang menentukan hal itu menjadi baik atau buruk. Sisi mana yang kita pilih, adalah suatu kebebasan, dan semuanya kembali pada diri kita masing-masing.

Tuesday, February 26, 2013

Dramatisasi dan Pencapaian



Suatu pencapaian dalam hidup belum tentu diawali dengan sesuatu yang dramatis. Sesuatu yang dramatis belum tentu diikuti dengan sebuah pencapaian.

Pada waktu seorang manusia dilahirkan, ia tidak bisa berjalan. Seiring berjalannya waktu, ia belajar dan belajar hingga akhirnya mampu berdiri, berjalan, dan bahkan berlari. Sebenarnya ini merupakan pencapaian yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Dalam istilah yang sedang menjadi trend, ini adalah fenomena from zero to hero. Namun tidak ada sesuatu yang dramatis. Tidak ada proses yang berlebihan seperti “sang bayi terus berjuang, jatuh bangun, meskipun ia merasakan sakitnya jatuh, tetapi ia bangun kembali karena tekad kuat dalam hatinya, ‘saya harus bisa berjalan. Saya Harus Bisa!’” Semuanya berjalan secara alamiah, natural, dan apa adanya.

Sebaliknya, banyak dari kita yang setiap tahun baru membuat resolusi, “Ini adalah tahun yang baru. Saya akan memulai tahun yang baru ini dengan semangat baru. Saya akan mencapai sesuatu yang luar biasa dan baru di tahun yang baru ini.” Namun pada prakteknya, sebelum memasuki bulan Februari pun semangat baru tadi sudah hilang entah kemana. 

Atau mungkin beberapa dari antara kita menyadari kebiasaan kita yang merugikan, ingin mengubahnya, bertekad di dalam hati, dan berkata pada diri sendiri dengan dramatis, “Cukup sudah! Mulai sekarang saya akan berubah! Saya sudah bosan dengan kebiasaan lama itu!” Namun selang beberapa hari, ia pun sudah berubah, berubah kembali ke kebiasaan lamanya.

Fenomena ini saya temukan dengan berkaca pada pengalaman diri. Banyak pencapaian diri saya yang menurut saya luar biasa tidak diawali dengan sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang dramatis. Saya ambil contoh penulisan dan penerbitan buku saya yang pertama. Saya sama sekali tidak pernah membuat tekad yang berkobar-kobar bahwa saya harus bisa menerbitkan sebuah buku. Saya hanya memiliki keinginan untuk menulis sebuah buku saat itu. Namun hasilnya sungguh luar biasa dan menggembirakan, sebuah buku atas nama saya yang beredar di seluruh Indonesia.

Di lain sisi, terkadang saya mengalami sesuatu yang dramatis dan mengira itu adalah awal dari sebuah pencapaian besar, meskipun ternyata tidak ada sesuatu pun yang terjadi setelah itu. Misalnya, seringkali di awal semester baru perkuliahan saya begitu bersemangat saat membaca beberapa nama mata kuliah yang akan saya ambil, saya berpikir, “Ini luar biasa! Sebentar lagi saya akan mempelajari dan menguasai pengetahuan tentang … (nama mata kuliah)” Namun begitu mulai kuliah, “Astaga! Apa ini? Kenapa begini isinya?” Semangat dan harapan saya pun hilang sedikit demi sedikit, pertemuan demi pertemuan. Sebaliknya saya seringkali mendapat inspirasi pengetahuan dari beberapa mata kuliah yang sama sekali tidak menarik bila dilihat dari namanya.

Kumpulan pengalaman itulah yang mendasari pemikiran saya tersebut. Mungkin dari pemikiran tersebut bisa dipetik manfaat, yaitu jangan terlalu optimis dan over expected akan sesuatu yang dramatis, dan jangan meremehkan sesuatu yang terlihat biasa saja dan tidak menarik. Siapa tahu di balik hal yang sangat biasa tersebut tersimpan sesuatu yang luar biasa.

Tuesday, February 12, 2013

What I Have Realized About Loneliness

Loneliness is not a physical state, it is only a state of mind. It cannot be fixed by physically moving to a crowded place, but it can surely get fixed by directing your focus and attention to nearby objects, either it is near in context of time, or space.

Sometimes moving to a crowded place full of friends can get rid of it, but I think that it works because the attention is accidentally shifted to nearby friends. However, it is not always working every time because of it's accidental nature. Thus, it is worthy to try fixing it without moving the entire body even an inch.

Wednesday, July 25, 2012

Baterai Laptop yang Menginspirasi

Selama ini saya memiliki pertanyaan yang belum terjawab. Singkatnya, apakah dalam hidup ini saya harus bekerja keras, ataukah harus menikmatinya saja?

Jika bekerja keras mengejar impian, harapan, dan cita-cita tanpa henti, lama-kelamaan pasti kesehatan akan menurun dan malah bisa sakit. Akhirnya seakan-akan saya tidak menghargai kesehatan. Saya telah banyak mendengar cerita orang yang terlalu obsesif mengejar sesuatu dengan bekerja keras dan malah berakhir sakit keras.

Jika beristirahat selalu, menikmati hidup, dan tidak bekerja keras, saya akan merasa hidup saya tidak berisi, tidak bermakna, dan tidak ada artinya. Hampa. Satu kata yang tepat untuk menggambarkannya.

Hari ini saya terinspirasi dari baterai laptop. Ketika baterai itu hampir habis alias low battery, baterai tersebut harus dicharge. Namun jika baterai itu sudah penuh, jika terus menerus dicharge bisa-bisa malah bocor baterainya.

Begitu pula dengan hidup. Sesekali setelah bekerja keras dengan sepenuh hati, kita perlu istirahat untuk memulihkan tenaga kita, energi kita, untuk kembali bekerja keras dengan kekuatan yang telah direfresh dan semangat baru. Namun jika terlalu lama beristirahat, hidup kita tentunya akan terasa sangat hampa dan tidak bermakna. Jadi prinsip utama di sini lagi-lagi ternyata keseimbangan antara keduanya.

Lalu, kapan kita tahu saatnya energi kita habis dan harus beristirahat, dan saatnya energi kita telah pulih untuk kembali bekerja keras? Pertanyaan ini lebih tepat diajukan ke tubuh kita sendiri, karena jika kita peka, sebenarnya tubuh ini telah memiliki sensor yang dapat mendeteksi hal tersebut :)

Wednesday, July 18, 2012

Menyusun Batu, Mendaki Lebih Tinggi

Siang hari tadi saya secara tidak sengaja mendengar siaran salah satu stasiun radio. Tiba-tiba ada satu hal menarik yang dikatakan penyiarnya, kira-kira seperti ini:

“Kalau kita mendengar saran dari orang lain, mungkin sebagian besar dari kita masih bisa menerimanya dengan tersenyum. Namun ketika mendengar kritik, sepertinya hanya tinggal sebagian kecil saja yang masih bisa menerimanya dengan tersenyum. Lalu bagaimana seharusnya? Agnes Monica pernah mengatakan hal ini mengenai cara menanggapi kritik: ‘Anggap saja kritik itu adalah batu. Ketika kita dilempari batu tersebut oleh orang lain, jangan marah, jangan juga menghindar. Tangkap saja batu itu, kumpulkan, lalu susun dan tumpuklah dengan rapi agar kita dapat berpijak naik ke atasnya. Dengan begitu kita telah menjadi setingkat lebih tinggi dari sebelumnya.’”

Wow! Saya terkesima. Sungguh filosofis! Lalu saya bertanya dalam hati, “Jika kritik itu memang kritik yang membangun tentu saja bisa membuat kita menjadi lebih tinggi dari sebelumnya, tapi bagaimana jika kritik itu ditujukan dengan niat yang kurang baik? Kan tidak semua orang melontarkan kritik dengan niat baik..”

Namun sejenak kemudian saya menemukan jawabannya, “Jika batu itu bagus dan dapat digunakan untuk membangun fondasi tempat kita berpijak, ya gunakan. Jika batu itu jelek dan tidak beraturan, bukan batu yang dapat ‘membangun’, ya buang saja, jangan digunakan” :)

Bersenang-senang Dahulu, Bersenang-senang Kemudian

Ada seorang karyawan baru di sebuah perusahaan yang memiliki ambisi yang sangat besar untuk segera naik jabatan agar dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Saking besarnya, ia bahkan seringkali mengorbankan waktu untuk dirinya sendiri menikmati hidup, waktunya bersama keluarga dan teman-teman, bahkan waktu tidurnya sekalipun. Semuanya ia dedikasikan untuk bekerja keras agar segera naik jabatan.

Dalam waktu yang singkat, ia pun dipromosikan menjadi supervisor. Gajinya meningkat. Ia pun kini dapat membeli barang-barang yang tidak dapat dibeli sebelumnya. Namun semua kepuasan itu hilang hanya dalam beberapa hari. Ia pun kembali menginginkan barang-barang lain yang tidak dapat dibelinya sekarang. “Jika aku punya semua itu, pasti aku lebih bahagia”, pikirnya. Ia pun bekerja lebih keras lagi dan lebih keras lagi untuk terus naik jabatan. Namun selalu saja kebahagiaan yang dirasakannya hanya beberapa saat saja setelah kenaikan jabatan.

Singkat kata singkat cerita, kini jabatannya adalah direktur. Ia punya mobil Porsche, rumah mewah, dan sebagainya. Namun tak lama kemudian kesehatannya memburuk dan akhirnya diopname dirumah sakit karena penyakit liver. Berdasarkan hasil diagnosis, penyebabnya adalah kurang istirahat dan pikiran yang terlalu berat.

Siapakah direktur itu? Tidak, tidak, itu hanya cerita karangan saya kok. Saya hanya ingin menggunakannya untuk menjelaskan sesuatu.

Jadi.. menurut Anda, apakah kata pepatah “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” itu benar?

Mari kita diskusikan.

Dalam cerita diatas, memang orang tersebut bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Namun bersenang-senangnya hanya sesaat, bersakit-sakitnya panjaaaaaang… sekali. Lalu apa yang salah?

Orang ini selalu menempatkan kebahagiaannya di masa depan, sehingga ketika ia mencapai hari itu di masa depan, kebahagiaannya sudah bergeser lebih jauh lagi di masa yang lebih jauh kedepan. Hidupnya akhirnya seperti marmut kecil di dalam roda berputar yang terus menerus berlari mengejar umpan yang digantungkan di luar sangkarnya. Sampai kapanpun tidak akan terkejar.

Pepatah lain yang saya dapatkan dari film Kungfu Panda, “Yesterday is a history, tomorrow is a mystery, today is a gift” dapat menggambarkan secara jelas mengenai apa yang harus dilakukan. Hari ini, sekarang ini, saat ini, detik ini adalah berkah. Hargailah, hiduplah di saat ini, tempatkanlah kebahagiaan di detik ini.

Lalu apakah kita harus menjadi orang yang “menikmati hidup”, yang bersenang-senang dan berfoya-foya setiap hari? Tentu saja tidak. Bersenang-senang lain dengan bahagia. Orang yang bersenang-senang belum tentu bahagia. Saya pernah mencobanya saat SMA dulu. Saya bersenang-senang seharian. Lalu apakah saya bahagia? Tidak. Saya hanya merasakan kehampaan. Dan pada malam harinya sebelum tidur, ketika saya ingat apa saja yang saya lakukan hari itu, bahkan saya merasa menyesal, karena tidak mengisi hidup saya satu hari itu dengan hal bermakna.

Jadi, menurut saya, dalam hidup ini kita memang harus mengejar impian, harapan, dan cita-cita kita agar hidup ini lebih bermakna, terisi, dan tidak hampa. Namun tanpa sadar seringkali kita berpikir “dengan mencapai impian tersebut saya akan menjadi lebih bahagia”, dan mengejarnya dengan membabi-buta tanpa mempedulikan makna kehidupan saat ini, karena tergiur kebahagiaan yang melekat pada impian tersebut. Bahkan kadang kita berpikir “biarlah hari ini saya menderita dan tidak bahagia, yang penting nanti saya bahagia.” Percayalah, kondisi nanti itu tidak akan tercapai. Ketika impian tersebut tercapai, kita akan segera mengejar yang lainnya lagi dan kembali tidak bahagia lagi.

Memang, dalam mewujudkan impian perlu kerja keras, tapi kata ‘kerja keras’ itu sendiri seringkali menimbulkan salah pengertian. Lebih tepatnya jika kata tersebut diganti dengan ‘berusaha dengan tekun dan konsisten’. Jadi kita tidak mengabaikan makna dari proses perjuangan menuju impian itu sendiri, kita menikmati proses tersebut. Dengan begitu kebahagiaan akan selalu bersama kita. So, bersenang-senang sekarang, bersenang-senang kemudian!

Tuesday, July 17, 2012

Mental Kepiting vs Mental Sekrup

Siang hari itu saya dan teman-teman sedang refreshing ke Taman Anggrek. Niatnya ingin bermain ice skating, tapi setelah melihat harganya..

“Lho koq gak ada diskon mbak? Padahal hari Senin?”

Ternyata masih periode liburan sekolah. Alhasil daripada menghabiskan uang jajan sia-sia, kami tidak jadi bermain dan mampir ke KFC untuk sekedar minum dan duduk. Tiba-tiba salah seorang teman saya membuka topik obrolan yang cukup menarik. Katanya banyak orang yang mentalnya seperti kepiting. Jika melihat orang lain maju langsung dicapit, ditarik mundur lagi. 

Mungkin juga tepat dianalogikan dengan karet. Coba Anda pegang ujung karet gelang yang satu dengan tangan kiri, kemudian tarik ujung satunya lagi dengan tangan kanan. Apa yang terjadi? Seolah-olah seluruh bagian karet itu berusaha mencegah ujung karet yang ditarik tangan kanan untuk bergerak maju. Sekarang coba lepas ujung karet di tangan kanan Anda, ujung itupun kembali ke posisi semula karena “ditarik mundur” oleh teman-temannya yang notabene adalah karet juga. Apakah teman-temannya diuntungkan dengan melakukan hal tersebut? Tidak juga, mereka pun tetap di posisi semula, tidak bergerak maju.

Bagaimana dengan sekrup? Ketika ujung yang runcing dimasukkan ke dalam lubang dan sekrup diputar, seolah-olah bagian lainnya dari sekrup tersebut “mendorong maju” si ujung yang runcing ini untuk masuk ke dalam lubang. Apa hasilnya? Si ujung runcing bergerak maju, bagian lainnya pun juga ikut bergerak maju. Semuanya sama-sama diuntungkan.

Nah, marilah kita sama-sama mencoba belajar dari sifat sekrup ini. Bayangkan saja jika di antrian halte busway yang cukup panjang, ketika penumpang di antrian terdepan ingin masuk, ditarik mundur dan tidak diperbolehkan masuk oleh penumpang di antrian belakangnya. Apakah penumpang yang menarik mundur ini diuntungkan? Tidak juga, ia sendiri malah tidak bisa masuk kan karena terhalang penumpang di depannya? :)

Tuesday, April 10, 2012

A small lesson

Today I understand one more piece of understanding in my life, "Just trust in yourself. Don't rely on others even when others are better then you. Because if you trust yourself to the fullest, you don't let anyone control your success or your failure". May this post remind me if I forgot this lesson someday.

Thursday, October 20, 2011

Vision and Mission

When I'm small and ignorant,
I really don't know about Vision and Mission.
I only know that
they are some bullshits that created by schools, organizations, and corporations.

But..
when I grow to become better and better everyday,
finally I realized that they are so important.
Not only in corporations,
not only in organizations,
but they are obviously important in everyone life,
each of us.

Why?
Because..
Vision is like a shooting target,
and mission is a rifle.
Without target,
we don't know where to shoot,
and without a rifle,
we will only staring at the target.

Vision is like a compass,
and mission is a steer in a boat.
Without compass,
we don't know where to sail,
and without a steer,
we actually cannot drive the boat.

Vision is like an algorithm,
and mission is the implementation.
Without algorithm,
we don't know what program we want to write,
and without implementation,
we actually don't get the idea working in a real program.

Vision is theory,
and mission is practice.
Wothout theory,
we don't know the right way to do something,
we only guess that we are already doing the right thing.
Without practice,
we only know how to do something,
but we actually cannot do it.

Finally,
Vision is vision, our eyes.
Mission is muscle,
Without vision,
we will act like a blind.
Without mission,
we will act like a disabled.

Every successful person has vision and mission,
so he/she really knows what to achieve in his/her life.
Because a man without a vision is like a missing kite,
it go wherever the wind blows.

Every successful organization has vision and mission,
but they are written not to show that the organization has them,
they are written for one purpose,
to let everyone in that organization knows them,
and synchronize themselves with them.

THe importance is not that they are written,
they are just sentences.
The real importance is the meaning behind those sentences.

A gift is meaningful not because it is good and expensive,
but it's meaningful because the good intention of the giver.
Even a 'thank you' is not meaningful because it's a sweet sentence like 'thank you very much my friend',
a simple 'thanks' is often much more meaningful when it comes from ones deepest heart.

So, let's have a vision and mission in our hearts..

From Christopher Henry Priyono,
for everyone who needs..

Saturday, May 21, 2011

Warning!! Hati-hati Dalam Menentukan Target

Setahun yang lalu, ketika saya memasuki Universitas Tarumanagara dan mengikuti acara penerimaan mahasiswa baru sebagai angkatan 2009, ada salah satu acara dimana 3 mahasiswa berprestasi dengan IPK tertinggi dari angkatan pendahulu saya, 2008, dipanggil untuk naik ke panggung dan diberi penghargaan. Saya diam-diam bertekad dalam hati dan membuat target bahwa tahun depan sayalah yang akan berdiri di panggung tersebut pada acara penerimaan mahasiswa baru 2010. Target tersebut terus memotivasi saya untuk berjuang dengan gigih hingga akhirnya..



Saya berhasil mendapatkannya! Tentunya saya senang sekali karena impian saya menjadi kenyataan. Namun sayangnya.. Ada yang salah dengan target tersebut. Penghargaan hanya diberikan sekali, namun saya mengacu pada penghargaan tersebut untuk berjuang. Akibatnya, pada semester berikutnya..

IPK saya turun drastis! Namun saat itu saya hanya bertanya dalam hati “Mengapa seperti ini? Apa yang terjadi?”. Saya terus mencari-cari jawaban dan belum juga menemukan bahwa ada yang salah dengan target yang saya buat. Saya sama sekali tidak menyadari bahwa sebenarnya saat itu, ketika pikiran saya secara samar-samar mulai berbisik: “Kau sudah mendapatkannya, apa lagi yang kau kejar?”, seharusnya saya langsung meng-update target tersebut.

Karena ketidaktahuan saya akan hal tersebut, saya pun mengulangi tindakan serupa yang mengakibatkan kejadian yang serupa pula. Di tahun yang sama, ketika saya bergabung dengan Robotics Untar, saya pun bertekad untuk mengukir suatu prestasi sebagai bentuk partisipasi nyata. Akhirnya, bersama tim “Robotics Untar 1” yang terdiri dari 3 orang, saya berhasil meraih Juara Harapan III pada Kompetisi Roket Indonesia 2010 tingkat nasional.




Namun, pertanyaan dari pikiran saya kembali mengusik, “Kau sudah mencapainya, lalu apa tujuanmu sekarang untuk melanjutkan partisipasi di Robotics Untar?” Saya lagi-lagi mengabaikannya dan tidak meng-update target saya. Akhirnya, tepat satu minggu yang lalu, saya berangkat mengikuti lomba Kontes Robot Cerdas Indonesia tanpa motivasi yang jelas. Satu-satunya alasan saya mengikuti lomba tersebut hanyalah sebagai pertanggungjawaban saya sebagai koordinator divisi. Tadinya saya berpikir motivasi tidak akan mempengaruhi hasil dalam lomba robot, “toh robotnya ini yang bertanding, kan gak mungkin kalo orangnya gak semangat, robotnya ikut gak semangat”, pikir saya.

Namun anehnya, dalam setiap sesi pertandingan, selalu saja ada masalah dengan robot divisi saya meskipun sebelumnya baru saja dites dan tidak ada masalah apa-apa. Dari kejadian tersebut saya baru dapat menerima bahwa istilah “Mestakung” atau Alam Semesta Mendukung dari Prof. Yohanes Surya ternyata ada benarnya juga. Jika kita membuat tekad yang kuat di dalam hati, alam sekitar kita seolah-olah akan mendukung tercapainya tujuan yang kita targetkan.

Setelah mengalami dua kejadian tersebut, kini saya baru dapat menarik benang merahnya, bahwa suatu target yang sudah tercapai harus segera diperbaharui jika tidak ingin terombang-ambing tanpa tujuan. Hal ini benar-benar menjadi pembelajaran baru bagi saya dan saya sangat senang dapat memahaminya sekarang. Saya juga sangat berharap kepada semua orang yang telah membaca tulisan ini untuk dapat turut belajar dari pengalaman saya ini agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Akhir kata, izinkan saya untuk merangkumnya ke dalam 3 paragraf singkat:
“Jika ingin melakukan sesuatu dengan setengah hati, ada dua pilihan paling bijak, mengisi setengah hati yang kosong terlebih dahulu, atau menghentikan pekerjaan tersebut secepatnya, karena jika dilanjutkan dengan setengah hati, hasilnya tetap saja nihil, bahkan harus membayar kerugian sebesar setengah hati.

Seorang politikus yang bercita-cita untuk menjadi kepala negara akan membuat negaranya hancur. Sebaliknya seorang politikus yang bercita-cita untuk membuat rakyatnya sejahtera selama masa pemerintahannya sebagai kepala negara adalah seorang politikus yang sukses.

Pasangan kekasih yang membuat janji dan komitmen untuk menikah akan membuat rumah tangganya berantakan. Sebaliknya mereka yang membuat janji untuk setia seumur hidup dan memandang pernikahan sebagai awal perjalanan mereka, bukan suatu tujuan akhir, adalah pasangan yang sangat bahagia.”

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua orang yang membacanya.

Jakarta, 21 Mei 2011
Christopher Henry Priyono