Showing posts with label Psychological Tutorial. Show all posts
Showing posts with label Psychological Tutorial. Show all posts

Wednesday, July 18, 2012

Apakah cara membaca buku Anda sudah efektif?

Pernahkah Anda membaca buku, namun Anda merasa tidak mendapatkan informasi apa-apa yang Anda ingat dari buku tersebut?

Jika ya, mungkin cara membaca Anda kurang efektif.

Sebagian besar dari kita membaca buku secara berurutan kata per kata, kalimat per kalimat mulai dari halaman pertama sampai paling belakang. Jika Anda memang sedang membaca novel atau buku cerita, memang harus seperti ini membacanya jika tidak mau bingung. Namun jika Anda sedang mencari informasi dari buku tersebut, seperti buku tips dan trik, buku referensi, atau buku pelajaran sekolah, teknik membaca seperti itu sangatlah membosankan dan tidak efektif. Saya pun dulu ketika menggunakan teknik itu hanya kuat bertahan maksimal 15 menit membaca sebelum tertidur pulas!

Mengapa bisa begitu?

Seperti yang telah saya katakan dalam posting lainnya, struktur otak manusia tidak linear dan berurutan. Jadi teknik membaca secara berurutan tidak seusai dengan cara kerja otak kita sehingga terkesan jenuh dan membosankan. Lalu bagaimana sebaiknya kita membaca?

Misalnya kita sedang membaca buku komputer. Pada bagian pendahuluan ada teks “Dewasa ini perkembangan teknologi komputer semakin pesat. Kapasitas harddisk, RAM, dan lain-lain semakin besar bla bla bla..” Ketika membaca teks yang tidak ingin Anda ketahui atau sudah Anda ketahui sebaiknya cepat saja. Misalnya Anda belum tahu apa itu RAM.

Kemudian Anda pindah ke daftar isi, ternyata bab 3 membahas tentang RAM. Anda pun membaca bagian pertama pada bab tersebut: “RAM atau Random Access Memory adalah memori yang isinya hilang jika catu daya dimatikan sehingga hanya digunakan saat komputer menyala misalnya untuk menyimpan hasil perhitungan sementara, dan sebagainya. Berbeda dengan ROM yang hanya dapat dibaca isinya, RAM ini dapat dibaca datanya maupun ditulisi data.”

Anda kemudian belum tahu apa itu ROM. Anda ke daftar isi lagi dan melompat ke bab 5 yang membahas tentang ROM. Demikian seterusnya. Kelihatannya aneh membaca dengan melompat-lompat. Namun Anda kini telah menjadi tahu dengan cepat apa itu ROM, RAM, dsb.

Anda bahkan tidak perlu melanjutkan membaca detail mengenai RAM seperti arsitektur dan cara kerjanya pada bab 3 jika tujuan Anda membaca adalah mendapatkan informasi secara garis besar mengenai komponen apa saja yang menyusun komputer. Jadi ada beberapa bagian yang seharusnya dilompati karena dibacapun tidak akan masuk otak jika tujuan Anda membaca bukan mendalami cara kerja dan proses pembuatan setiap komponen. Jadi sesuaikanlah dengan tujuan Anda membaca.

Mudah kan? Coba saja praktekkan jika Anda belum pernah menggunakan teknik ini sebelumnya. Bagaimana jika sudah tahu tentang hal ini dan sudah berhasil mempraktekkannya? Lebih bagus lagi. Kalau begitu sebarkanlah informasi ini agar semakin banyak orang yang gemar membaca dan dengan demikian budaya membaca bangsa kita akan semakin meningkat!

Cara Belajar yang Efektif dan Tidak Membuat Jenuh

Terkadang saat kita selesai belajar sesuatu, terutama pelajaran teori, beberapa hari kemudian kita sudah lupa lagi. Padahal saat belajar itu kita sudah sampai terbosan-bosan dan jenuh. Rasanya sangat merugikan bukan?

Mengapa bisa demikian?

Mungkin cara belajar kita perlu diubah. Seperti yang pernah saya katakan dalam posting lainnya bahwa otak manusia tidak bekerja berdasarkan urutan dan susunan. Namun lebih kepada hubungan antar ide tersebut.

Misalkan saja Anda disuruh menghafalkan benda-benda berikut: sendok, meja, obeng, garpu, paku, piring, palu, kursi. Lebih mudah mana, menghafalkan dalam urutan tersebut atau urutan berikut:

Meja – kursi –piring –sendok –garpu –obeng –paku –palu

Mengapa lebih mudah? Karena urutan tersebut memiliki hubungan ide yang jelas. Ada meja dan kursi, di atas meja ada piring. Di dalam piring tersebut ada sendok dan garpu. Tak jauh dari situ terdapat peralatan kerja seperti obeng, paku, dan palu.

Melalui contoh tersebut, Anda sudah mengetahui apa yang saya maksud dengan cara belajar yang efektif kan? Tidak perduli seberapa liar imajinasi Anda, asalkan hubungan antar idenya jelas, otak Anda akan menyerapnya juga. OK, selamat mencoba! :)


Sumber bacaan:
http://thinksimplenow.com/productivity/how-to-learn-without-memorizing/

Apakah Anda lebih menyukai browsing web di Internet daripada membaca buku? Mengapa?

Misalnya suatu saat Anda ingin liburan keluar negeri, misalnya Australia. Sebelum berangkat Anda ingin mencari informasi mengenai tempat menarik apa saja yang terdapat di negara tersebut. Anda punya koneksi internet, namun juga punya buku daftar lengkap beserta detail mengenai tempat-tempat menarik di Australia.

Mana yang Anda pilih?
Saya rasa kemungkinan besar Anda (termasuk saya) memilih menggunakan Internet.

Pertanyaannya, mengapa?
Itu karena cara kerja otak kita.

Apakah kita berpikir untuk mengunjungi tempat-tempat menarik tersebut satu per satu berurutan mulai dari abjad A sampai Z? Atau mungkin per kategori untuk mengunjungi seluruh restoran terlebih dahulu, kemudian semua museum, dan seterusnya? Tentunya tidak bukan?

Secara naluriah kita pasti berpikir kira-kira dengan cara seperti ini “ah, hari pertama saya ingin mengunjungi tempat wisata yang ada di Sydney, kemudian mengunjungi restoran terkenal yang lokasinya tidak jauh dari tempat itu. Hari kedua saya akan mengunjungi tempat wisata di Melbourne, setelah itu akan makan malam di restoran sekitarnya yang cukup terkenal.”

Nah, bagaimana jika kita harus mencarinya di buku? Syukur-syukur buku itu mengkategorikan tempat wisata berdasarkan tipenya (restaurant, museum, dsb). Bagaimana jika tidak? Pertama-tama kita harus mengecek satu per satu, lembar per lembar, objek wisata apa saja yang ada di Sydney. Kemudian mengulanginya lagi untuk restoran. Tapi itu baru di Sydney. Belum di tujuan kita berikutnya, Melbourne. Rasanya pasti argggghhhh…

Lain halnya jika kita mencari menggunakan internet. Kita cukup mencari satu tempat wisata yang ada di Sydney, kemudian pada halaman web tersebut akan ada link ke “obyek wisata lainnya di Sydney” dan juga “restoran-restoran di Sydney”. Tidak perlu pusing, tinggal klik, jadi deh..

Cara otak menyimpan informasi mirip dengan web. Otak tidak mengurutkan informasi yang diperoleh secara alfabetis, atau berdasarkan kategori tertentu, atau per bab seperti di buku. Cara otak kita menyimpan informasi lebih mirip dengan web di Internet.  Antar informasi yang satu dengan informasi lain yang saling berhubungan terhubung melalui link-link, seperti link-link yang menghubungkan antara halaman web yang satu dengan halaman web yang lain.

Hal ini kemungkinan besar terjadi karena struktur otak itu sendiri, yang terdiri dari neuron-neuron yang saling berhubungan, dan setiap kali seseorang belajar hal baru, hubungan antar neuron alias link-nya akan bertambah pula.

Karena struktur otak kita berbeda dengan buku, kita perlu menyesuaikan cara kita membaca buku agar dapat membaca buku dengan efektif dan tidak membosankan. Kita juga dapat memanfaatkan informasi yang telah kita ketahui ini untuk mengubah cara belajar kita agar lebih mudah masuk otak dan tidak cepat jenuh.
Nah, karena itulah orang-orang lebih menyukai browsing web. Logis kan? Logis donk :)

Sumber bacaan:
http://thinksimplenow.com/productivity/how-to-learn-without-memorizing/

Friday, January 27, 2012

Hindari Berpikir Positif Jika Ingin Sukses

“Haa? Anda sudah gila?” Tidak saya masih waras. Saya membuat tulisan ini dalam keadaan sehat walafiat secara fisik dan mental. “Lalu? Apa maksud Anda? Menipu saya?” Sabar dulu, saya tidak bermaksud demikian.

Saya akan mulai dengan sebuah kisah. Ada 3 orang yang mengikuti lomba yang sederhana namun cukup unik. Di hadapan mereka masing-masing terdapat sebuah batu yang sangaaat besar. Barangsiapa yang dapat menggulingkan batu tersebut terlebih dahulu, dialah yang menjadi pemenangnya.

Orang pertama, Mr.PositiveThinking, mengatakan pada dirinya sendiri, “saya bisa, saya kuat, saya pasti bisa menggulingkan batu ini, hyaaatt..” Namun karena batu itu memang beberapa kali lipat berat tubuh manusia, batu itu sama sekali tidak bergeming. Ia pun berteriak semakin keras pada dirinya sendiri, “SAYA BISA, SAYA KUAT!” Namun tetap saja tanpa hasil. Ia pun terkapar di lantai karena kelelahan. Kecewa..

Orang kedua, Mr.NegativeThinking, ketika melihat batu yang begitu besar dan berat, ia langsung bergumam, “huh, yang benar saja! Tidak mungkin batu besar dan berat seperti itu bisa digulingkan.. Panitia lomba sepertinya hanya ingin mengerjai saya.. Sudahlah saya pulang saja..” Tanpa mencoba menggulingkan batu itu sama sekali, ia pun merapikan barangnya dan bergegas pulang. Sebelum pulang ia menghampiri Mr.PositiveThinking yang tengah kelelahan dan putus asa, lalu berkata, “makanya jangan sok optimis, toh akhirnya malah kecewa gara-gara nggak dapet yang diinginkan.. Mending kayak saya, dari awal udah bilang gak bisa, kan gak perlu kecewa, hehehe..” Mr.PositiveThinking menimpali, “ah tidak, kamu sesat, aku tadi hanya kurang positive saja, harusnya aku terus stay positive, positive, and always positive!”

Selagi mereka berdua asyik berdebat sendiri, peserta yang ketiga, Mr.NeutralThinking, berpikir seadanya, sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya, “Berat batu ini tidak sebanding dengan kekuatanku. Jika ingin menang, aku harus menggunakan cara lain.” Ia pun berjalan berkeliling tempat pertandingan sambil mencari cara.

Melihat Mr.NeutralThinking malah berjalan-jalan, Mr.PositiveThinking berkomentar “Apa yang sedang ia lakukan? Mengapa ia malah membuang-buang waktu? Apakah ia sama sekali tidak pernah belajar tentang TIME MANAGEMENT?” Mr.NegativeThinking kembali menimpali, “halah, hentikan semua omong kosongmu Mr.PositiveThinking, paling-paling dia sudah menyerah seperti aku dan memilih berputar-putar saja berkeliling.”

Namun, di luar dugaan mereka berdua, Mr.NeutralThinking kembali dengan dongkrak di tangannya. Ia pun menyelipkan dongkrak itu ke bawah batu besar tersebut, dan dalam waktu singkat, GLUDUK GLUDUK GLUDUK. Batu itu menggelinding! Dan dialah pemenangnya!

Pesan moral dari cerita ini, baik positive thinking maupun negative thinking sama-sama menciptakan bias pada realita yang sesungguhnya. Hanya yang berpikir sesuai realita dan menanggapi realita tersebut dengan tindakan terbaiklah yang akan menang.

Tidak usah jauh-jauh, mata plus dan mata minus sama-sama perlu dikoreksi dengan lensa, bukan? Hanya mata neutral yang dapat melihat dengan jelas. So, let’s start thinking neutrally! The middle way is always the best :)

If you find my posts useful for you, you can follow my blog. Please backlink to this post if you want to share it to your friends, and.. Thank you for reading :)

Sunday, June 12, 2011

Mengubah Hidup dengan Hukum Newton, FINAL PART

Para pembaca yang saya hormati, akhirnya sampai juga kita pada Hukum Newton yang ketiga. Hukum ini terkenal dengan nama Hukum Aksi-Reaksi dan merupakan hukum yang paling jelas kaitannya dengan kehidupan nyata dari ketiga Hukum Newton yang sangat terkenal itu. Hukum ini secara sederhana menjelaskan bahwa apabila kita mengerjakan suatu gaya pada sebuah benda, benda tersebut akan mengembalikan gaya tersebut dengan besar yang sama kepada kita. Kerennya, F12 = F21.

Saya jadi teringat masa-masa sewaktu saya masih SD dan masih 'bandel-bandelnya'. Di SD dulu, saya terkenal sebagai orang yang usil dan beberapa teman saya telah menjadi korbannya (bagi yang merasa, maap yah, hehehe.. sekarang sih udah nggak lah :) Saya seringkali ditegur guru saya dan kata-katanya yang masih saya ingat adalah seperti ini

"Hen, kamu mau gak kalo kamu digituin?" Saya menjawab: "Yah gak mau lah, mana ada orang yang mau diusilin." Guru saya berkata lagi: "Kalo gitu kamu gak boleh gitu sm temen kamu!" Dalam hati saya berkata "Lho apa hubungannya?" (Maklum masih SD, belum bisa berpikir kompleks, hehehe..)

Seiring berjalannya waktu, ketika saya semakin dewasa (cyailee..), saya akhirnya menyadari suatu hal. Seperti tembok yang kalau kita pukul akan mengembalikan pukulan kita sehingga tangan kita terasa sakit (Hukum Aksi-Reaksi), saya akhirnya mengerti bahwa apabila kita berbuat jahat pada orang lain, maka kita akan menerima balasannya entah dari orang yang sama ketika dia membalas, atau dari orang lain yang bahkan tidak disangka-sangka.

Demikian pula sebaliknya apabila kita berbuat baik pada orang lain, maka orang lain itu suatu saat nanti pasti akan membalas kebaikan kita, bahkan sekalipun orang itu tak sanggup membalasnya, orang yang lain secara tidak disangka-sangka akan membalaskan kebaikan itu pada kita. Terkadang, kebaikan yang kita terima pun jauh lebih besar daripada yang kita berikan (bahkan kebaikan pun bisa jadi investasi :) Jadi, mana yang lebih enak, jadi orang baik atau orang jahat? Semuanya kembali kepada Anda..

Tuesday, June 7, 2011

Mengubah Hidup dengan Hukum Newton, Part II

Para pembaca yang saya hormati, seringkali dalam hidup ini kita merasa semuanya berjalan secara stagnan. Dalam hal finansial, kita merasa kok pendapatan kita segitu-segitu saja. Dalam hal relasi sosial, kita juga sering merasa teman-teman kita sepertinya dari dulu hingga sekarang itu-itu saja, tingkat kedalaman persahabatan juga hanya sebatas kulit luar saja, bahkan terkadang seperti hanya kenal nama. Dalam hal akademik, kita merasa prestasi dan pencapaian kita hanya segitu saja, seakan-akan tidak bisa lebih, atau sudah pol barangkali? Namun sebenarnya hal itu secara jelas sudah ditunjukkan oleh Hukum Newton II secara tersirat dan dapat diatasi dengan hukum yang sama.

F = m . a, adalah inti dari hukum II Newton ini. Kita tidak akan membahasnya secara terlalu rumit karena kita hanya ingin mengambil intisari pelajaran hidup dari rumus ini. Jadi, untuk sederhananya, bayangkanlah sebuah bola yang memiliki massa 1kg atau 2kg, atau 3kg, atau 4kg, atau 5kg, terserah Anda pokoknya, sedang menggelinding di atas meja yang sangat besaarr dan sangat liciiiinn, begitu licinnya sampai-sampai bola itu akan terus menggelinding jika Anda tidak menghentikannya. Pertanyaan saya, apakah bola itu semakin lama akan bergerak semakin cepat?

Tentu saja tidak, bola tersebut akan terus menggelinding dengan kecepatan konstan. Mengapa? Jawabannya sangat sederhana, karena tidak ada percepatan yang terjadi pada bola itu. Bola ini secara sederhana menggambarkan kehidupan kita yang stagnan, selalu konstan, seakan-akan tidak ada kemajuan. Hidup sih tetap hidup, namun masalahnya meskipun kita bergerak tetapi dengan kecepatan tetap. Hal ini terkadang dapat membuat seseorang merasa hidupnya membosankan, dan bahkan hanya menemui kekosongan. Bangun pagi, gosok gigi, mandi, pergi ke sekolah, ke kampus, atau ke kantor, kerja, belajar, kuliah, sampai larut malam, pulang lagi, tidur, bangun pagi lagi, dan seterusnya.. Hidup sih hidup, tapi asal bergerak dan hidup saja.

Lalu bagaimana solusinya? Mari kita lihat kembali hukum II Newton yang luar biasa ini, F = m . a, dan kembali pada bola tadi yang dianalogikan sebagai kehidupan ini. Jika gaya yang diberikan nol, menurut Anda, berapakah percepatan yang dialami oleh bola tersebut? Tentu saja nol, tidak perduli berapa pun massa bola tersebut. Inilah yang menyebabkan bola tersebut terus menggelinding secara stagnan dan membosankan. Sekarang, apabila kita meberikan sebuah gaya dorongan dengan nilai yang kecil sekalipun pada bola tersebut, apa yang terjadi? Ya, bola itu akan bergerak dengan semakin cepat. Bola itu akan mengalami percepatan. Dan inilah yang kita butuhkan!

Sekalipun kita hanya melakukan hal yang kecil dalam hidup ini, yang bertujuan agar hidup kita semakin berkembang, cukup lakukan saja. Karena sekecil apapun itu, hidup ini akan mengalami perubahan (yang dianalogikan dengan percepatan). Dan sejauh kita dapat terus memberikan 'gaya kecil' ini setiap harinya, kehidupan kita akan tetap memiliki nilai percepatan, hidup kita akan terus berubah. Oleh karena itu, bagi Anda semua yang merasa hidupnya begitu-begitu saja dan ingin berubah, mulailah memasukkan 'gaya-gaya kecil' ini ke dalam kehidupan Anda sehari-hari. Pelajarilah hal-hal yang baru yang belum Anda kuasai sebelumnya, kunjungilah tempat-tempat yang baru, dan lakukanlah sesuatu yang baru di luar kebiasaan Anda (yang positif tentunya, kecuali jika Anda ingin memberikan percepatan negatif dalam hidup Anda, hehehe..). Namun saran saya, sebaiknya ini tidak termasuk selalu membeli handphone keluaran terbaru dan mobil baru dengan menggunakan kartu kredit baru, dan memiliki pacar-pacar baru, karena ini tentunya akan menimbulkan masalah-masalah baru dalam kehidupan Anda. Jadi, selamat mencoba dan semoga berhasil! ^_^

Sunday, June 5, 2011

Mengubah Kualitas Hidup dengan 3 Hukum Newton , Part I

Siapa sih yang tidak kenal 3 hukum Newton? Saat kita SMA, SMP, bahkan SD pun kita sudah diperkenalkan pada hukum Fisika yang luar biasa ini. Mengapa luar biasa? Untuk apa sih sebenarnya hukum ini? Kebanyakan dari kita, termasuk saya dulu, akan berpikir: "mungkin untuk para fisikawan dalam menjalankan tugasnya.." Atau bahkan lebih parah lagi, "Untuk dihafalkan dan mendapatkan nilai baik dalam mata pelajaran Fisika." Tetapi akhir-akhir ini, saya menemukan suatu pesan tersembunyi mengenai kehidupan yang diajarkan oleh 3 hukum Newton ini. Apakah gerangan?

Sebelumnya, saya bukanlah seorang ahli fisika, ilmuwan, atau blablabla.. Saya hanya seorang pelajar yang secara tidak sengaja menemukan hubungan ketiga Hukum Newton dan kehidupan. Dalam artikel ini, saya hanya akan menceritakan Hukum Newton yang pertama. Untuk yang kedua dan ketiga, nantikanlah episode berikutnya! hehehe..

Ok, langsung saja, Hukum Newton yang pertama berbunyi: "Benda akan tetap diam atau bergerak dengan kecepatan tetap selama tidak ada gaya luar yang bekerja padanya." Apakah hanya berlaku untuk benda? Tidak! Ini ternyata juga berlaku untuk aspek-aspek kehidupan seperti akademik, karir, dan finansial. Setiap orang tentunya ingin sukses dalam setiap aspek kehidupannya, bukan? Tapi mengapa sering kita lihat dalam kehidupan bahwa orang yang sukses cenderung untuk terus sukses dan orang yang gagal cenderung untuk semakin terpuruk? Ternyata ini semua dapat dijelaskan menggunakan hukum Newton I yang sering disebut Hukum Kelembaman atau Inersia.

Saya akan mulai dengan "si sukses dan si gagal". 'Si sukses', setiap kali dia mendapatkan kesuksesan dalam hidupnya, kepercayaan dirinya akan semakin meningkat dan mindset di pikirannya bahwa "saya ini orang sukses" akan semakin menguat. Memang, tidak ada seorang pun dalam kehidupan yang luput dari kegagalan. Namun dengan bekal mindset dan kepercayaan dirinya tersebut, ia semakin giat berusaha dan berusaha untuk kembali mendapatkan kesuksesan yang gemilang dalam hidupnya.

Sebaliknya, 'si gagal', setiap kali dia mendapatkan kegagalan dalam hidupnya, semakin kuatlah mindset yang tertanam pada dirinya bahwa "saya ini orang gagal". Dengan mindset itu, orang ini akan semakin terpuruk dan terpuruk yang membawanya semakin jauh dari keberhasilan. Bahkan, biarpun terkadang 'si gagal' ini mendapatkan sedikit kesuksesan, ia secara sadar atau tidak akan berpikir, "paling hanya kebetulan, saya ini kan orang gagal". Benar bukan?

Bagi mereka yang sudah 'bergerak dengan kecepatan tetap' menuju kesuksesan, mungkin kelembaman ini tidak menjadi masalah. Namun, bagaimana cara untuk menghentikan dirinya dari 'bergerak dengan kecepatan tetap' menuju jurang keterpurukan bagi orang-orang yang masuk dalam kategori kedua?

Cobalah kita amati bagian terakhir dari hukum Newton I ini, "..selama tidak ada gaya luar yang bekerja padanya." Aha! Itulah jawabannya! Itulah kunci untuk keluar dari kelembaman! Diperlukan suatu usaha nyata dari kita, bukan hanya pasrah dan terus mengutuki keadaan serta berharap 'badai pasti berlalu'. Jika terjadi badai, tentunya Anda harus mengeluarkan usaha nyata dengan mencari tempat persembunyian yang aman, baru kemudian menunggu badai berlalu, bukan? Kalau tidak percaya, coba saja ketika terjadi badai, tetap diam di tempat dan berharap 'badai pasti berlalu'. Saya rasa badai memang akan berlalu, tetapi berikut orangnya kan? hehehe..

Usaha untuk keluar dari kelembaman memang tidak mudah. Ada 3 tingkat kesulitan dalam melakukan ini. Tingkat paling mudah adalah jika Anda sudah sukses dan ingin meningkatkan kesuksesan Anda. Ibaratnya adalah Anda sedang mendorong mobil yang sudah bergerak maju. Tingkat yang lebih sulit adalah jika Anda tidak begitu sukses dan juga tidak begitu gagal. Anda seperti sedang mendorong mobil yang diam. Ketika Anda mendorongnya, uhhh.. terasa cukup berat. Namun ketika roda sudah mulai menggelinding, tentunya akan menjadi lebih ringan, bukan?

Dan yang terakhir dan paling sulit adalah ketika seseorang sudah memupuk kehidupannya yang amburadul dan ingin berubah menjadi orang sukses. Mengapa sulit? Karena ini seperti mendorong ke depan mobil yang sedang bergerak mundur, jika dorongannya tidak cukup kuat, mungkin malah orangnya yang terdorong ke belakang. Oleh karena itu, saya selalu salut dengan orang-orang yang memiliki latar belakang kehidupan yang kurang baik, namun dapat mengubah kehidupannya dan akhirnya menjadi orang-orang sukses yang dikenal oleh seluruh dunia. Di balik kesuksesan itu, pasti ada perjuangan yang luar biasa untuk menggapai harapan dan impian tersebut.

Jadi, mudah-mudahan kita dapat belajar sesuatu dari sini. "Mengapa sih beberapa orang terlihat menggapai sukses dengan mudahnya, sementara kita kok sudah berusaha habis-habisan masih saja belum berhasil?" Jawabnya:"Karena mereka sudah terbiasa sukses, sudah 'bergerak dengan kecepatan tetap' menuju kesuksesan" Ternyata sukses dan gagal pun juga kebiasaan ya? Walaupun diperlukan usaha ekstra untuk keluar dari keterpurukan dan menjadikan kesuksesan kebiasaan, bagian dari hidup kita, mengapa tidak dilakukan? Ketika kita sudah "on the road to success", semuanya akan menjadi lebih ringan, bukan? Jadi, selamat mencoba :)

Wednesday, June 1, 2011

Manipulasi Pikiran : Kiat Jitu Menyelesaikan Tugas Tertunda

Pernahkah Anda berpikir hari ini saya harus melakukan ini dan itu tetapi pada akhirnya tidak melakukan apapun? Jika ya, Anda sedang membaca artikel yang tepat! Satu-satunya cara yang paling ampuh menurut saya adalah TIDAK MEMIKIRKANNYA! Aneh? Tidak masuk akal? Cobalah simak contoh kasus berikut ini.

Di suatu siang yang panas terik Anda sedang berada dalam perjalanan pulang ke rumah. Selagi di perjalanan, Anda memikirkan mengenai pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Ada pekerjaan ini dan itu. Namun setibanya di rumah, Anda menjadi tidak bersemangat untuk mengerjakan semuanya dan akhirnya hanya tidur2an. Pernah mengalami kan? Pernah dong, hayo ngaku..

Di lain waktu, pada setting panas terik yang sama, Anda sedang berada dalam perjalanan pulang. Sebenarnya Anda memiliki banyak pekerjaan rumah. Namun, Anda malah memikirkan bahwa setibanya di rumah nanti, Anda akan langsung istirahat dan tidur sebebas-bebasnya. Ajaibnya, begitu sampai rumah, semangat Anda sudah pulih kembali sehingga Anda tidak jadi tidur dan malah dapat mengerjakan semuanya dengan baik hingga selesai. Mengapa bisa begitu?

Secara psikologis, menurut para ahli (yang sudah saya coba sendiri dan ternyata benar), pikiran manusia tidak dapat membedakan imajinasi dan kenyataan. Jika tidak percaya, bayangkan Anda sedang meminum air limun yang asam sekali.. iihh.. mungkin sekarang saja air liur Anda sudah banyak di mulut kan? Telanlah terlebih dahulu sebelum melanjutkan membaca :)

Nah, ketika kita membayangkan tugas2 tersebut di perjalanan pulang, secara tidak sadar kita telah menyuruh otak kita untuk mensimulasikan seluruh rangkaian pengerjaan tugas tersebut disertai dengan seluruh sensasi letih lelahnya, sehingga setibanya di rumah.. "Aduh! Ternyata sebenarnya pekerjaannya belum selesai. Masa saya harus bekerja dua kali? Emoh ah.. Kamsia.. Arigato!" kata otak Anda.
Sebaliknya, ketika kita memikirkan bahwa setiba di rumah nanti kita akan istirahat sepuasnya, kita secara tidak langsung telah menyuruh otak kita untuk mensimulasikan istirahat itu, sehingga setibanya di rumah, "Wah! Saya sudah segaaarr! Mana pekerjaan yang harus diselesaikan? Saya siap!" Si otak bahkan tidak tahu kalau istirahat tadi hanya imajinasi. Jadi, mumpung Anda bisa 'membohongi' otak Anda untuk tujuan yang baik, mengapa tidak?

Trik ini sudah saya coba dan berhasil, semoga trik ini juga dapat bermanfaat bagi Anda semua. Jadi, tunggu apa lagi? Selamat mencoba!! :)